News
WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 5: Last Day in Lychen, Uckermark
Lychen, Uckermark, Jerman, 28 Juli 2011
Awan kelabu tebal menghalangi sinar matahari di Lychen hari ini. Rencana kami berkano hari ini terpaksa diubah menjadi jalan-jalan santai keliling Lychen. Kami dengar tidak jauh dari lokasi penginapan kami terdapat museum Uckermärkische Seen Naturpark. Kunjungan kami ke musem ini akan menjadi salah satu agenda utama kami hari ini. Jika cuaca mendukung, kami bisa mengunjungi tempat-tempat menarik lain di Lychen, pada hari terakhir kami di kota ini.

Wawancara dengan harian lokal mengenai aktifitas Forest Friends di Tesso Nilo dan Uckermarck. Foto: (C) Annisa Ruzuar / WWF-Indonesia
Saat berada di halaman depannya, saya tidak menyangka bahwa bangunan yang berdiri di hadapan saya adalah sebuah museum. Dan ternyata itu memang bukan museum, tapi merupakan visitor centre. Dalam Bahasa Jerman, tempat ini disebut Besucherzentrum Uckermärkische Seen. Bangunan cukup mungil dan tampilan luarnya terkesan biasa saja. Saya hampir tidak bisa membedakannya dengan bangunan-bangunan lain di sekelilingnya.
Meskipun ukurannya relatif kecil, konten dari visitor centre ini sangat menarik. Pengunjung tidak dibosankan dengan informasi yang melulu disajikan dalam bentuk deretan tulisan, tetapi juga dalam bentuk video, rekaman suara, permainan, miniatur objek, serta awetan kering hewan. Bisa dikatakan secara keseluruhan bobot tempat ini sangat baik: mendidik dan menyenangkan. Sayangnya semua informasi disajikan dalam Bahasa Jerman. Untunglah Lena dan Silke dengan senang hati berkenan menterjemahkannya kepada saya dan Annisa.

Tengah hari, kami berkesempatan berbincang dengan seorang petugas visitor centre. Beliau banyak bercerita tentang sejarah Uckermarkische Seen Naturpark (Taman Wisata Alam Uckermark). Statusnya sebagai taman wisata alam membuat aturan-aturan yang ditetapkan di dalamnya tidak seketat aturan-aturan pada taman nasional. Satu hal yang cukup mencengangkan saya adalah mereka tidak memiliki cukup banyak pegawai untuk menjaga dan mengawasi taman wisata alam ini. Penyebabnya klasik: karena tidak terdapat cukup banyak dana untuk membiayai keperluan operasional. Sama seperti di Indonesia, sebagian wilayah di taman wisata alam ini bisa diswastanisasi. Bedanya, di sini si pihak swasta perlu mendapat ijin resmi dari lembaga konservasi seperti WWF atau Greenpeace, sedangkan di Indonesia tidak.
Rintik hujan masih membasahi Lychen saat kami keluar dari visitor centre. Kami menggunakan kembali jas hujan kami, lalu melanjutkan perjalanan ke arah yang belum kami tentukan sebelumnya. Langkah kami mengantar kami pada sebuah kompleks peradaban masa lalu. Awalnya kami hanya menemukan sebuah rumah sakit tua, tapi setelah ditelusuri, ternyata ini adalah kompleks rumah sakit. Di sekelilingnya terdapat pula kompleks perumahan yang sudah tidak digunakan.

Konon rumah sakit yang bernama Die Heilstätten Hohenlychen ini merupakan salah satu rumah sakit termaju di Jerman. Salah satu temuan hebat yang terjadi di rumah sakit ini adalah cara penyembuhan penyakit TBC. Rumah sakit ini didirikan pada tahun 1902, dan berhenti beroperasi pada tahun 1945, saat wilayah ini dikuasi oleh Uni Soviet. Kini saksi-saksi bisu masa lalu yang suram itu disegel dan menjadi milik swasta.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kami harus segera bergegas menuju Berlin, meninggalkan Uckermark yang hijau dan damai.. Uckermark yang sangat menginspirasi dan menorehkan kenangan manis dalam ingatan kami. Selamat tinggal Uckermark… Semoga kami bisa kembali ke sini di kesempatan lain. :) |
|